Sejak kepulangan
dari beberapa minggu yang lalu, aku tersadar bahwa guru terbaik dari yang
paling terbaik dalam memberi pengalaman hidup, adalah ALAM.
......................................................................................................................................................***
Beberapa hari ini
langit begitu biru, awan nimbuz yang setia menutupi cerahnya langit kini tak
pernah lagi terlihat, aku tahu pasti begitu amat senangnya mentari. Ini
memancing hasratku untuk melepas rindu pada alam. Semuanya siap, namun langit
sedikit bertingkah lucu, berubah warna dari biru ke hitam, aku rasakan air
menembus masuk kulitku, ini gerimis. Bukan, ini hujan.
Dengan modal
nekat, kususuri tempat yang selama ini hanya bisa ku nikmati indahnya dari
mulut kawan. Sepanjang jalan air terus
menusuk kulit. Pantang pulang sebelum menikmati malam di hutan pinus itu.
Perlahan hujan
semakin memperlihatkan keganasannya, atau mungkin ini hanya sekedar lelucon
yang di buatnya agar perjalanan ini sedikit berwarna. Tapi ini terlalu, tak
hanya sekali, tapi berulang kali ku berlindung di bawah rumah yang tak ku tau
siapa pemiliknya.
Malam semakin
pekat bercampur hawa dingin, tubuhku merontah kedinginan namun sedikit kutahan
demi menjaga marwaku di hadapan wanita ini. tampaknya hujan semakin senang membuat
lelucon dimalam ini, dan seperti memaksa bahwa kamilah yang harus menikmatinya.
Dengan berat
hati, kami harus meninabobokkan tubuh di sebuah rumah teman, seperti mengerti
perut kami belum terisi sebulir nasi pun, hidangan dari tuan rumah datang, di
meja makan kita berbicara banyak hal.
Pagi tiba, sinar
cahaya terang telah terlihat di ufuk timur sana, aku tau mentari pasti lelah
setelah seharian mengelilingi dunia. Namun tidak dengan kami, masih saja ada
semangat untuk memperbincangkan indahnya hutan pinus itu. Berbagai
pertimbangan, kuputuskan untuk menelusuri jalan kembali, aku tak mau di buat
penasaran oleh alam, cukup dia saja!.
Kau tau, andai
kubawa penaku dan secarik kertas kosong pasti tak cukup waktu lama bagiku untuk
menghabiskan satu halaman penuh, karena keindahanmu dan keindahannya tak akan
pernah habis kugambarkan lewat kata kata, aku tau disaat kau mendengar ini, mungkin
saja kau akan tersenyum manis dan berkata dalam hati aku berbohong, sama
seperti yang selama ini sering kudengar dari bibir tipismu.
Aku tiba, dan
seperti diberi ucapan selamat datang oleh pohon pohon yang menjulang tinggi dan
eloknya embun menutup pandangan, serta hawa dingin berkeliaran bebas. Cukup
cerah hari ini, pikirku hujan sedang membuat lelucon di belahan dunia lain.
Gelap datang
mengusir siang, dan surya perlahan membungkuk malu malu di ufuk barat sana
walau tak terlihat jelas karena tertutupi embun dan pepohonan. Seketika seperti
ada tumpahan air dari langit, ini hujan. Niatku ingin menelanjangi alam malah
aku yang ditelanjangi oleh alam, didalam tenda amat terdengar jelas begitu
derasnya hujan, mengingatkan tentang sebuah nama yang tak pernah nyata, binar
mata yang tak bosan kupandang, lentik senyum yang tak pernah berhenti
kunikmati, sekalipun hanya dalam angan. Dia, dia adalah wanita tempatku menitip
rindu.
.
.
.
.
.
.
.
....................Dan
karena hujan, aku pulang!