Orang bilang bulan
ini musimnya hujan, ada yang mengomel di balik jendela ada yang
kesal di meja kerjanya adapula yang merindu, katanya. Akhir tahun ini sepertinya penuh cerita,
bulan desember ini memang sarat akan makna, seperti aku yang selalu menitip
rindu pada orang yang semu, ataukah seperti mereka yang sama sama merindu tapi
saling diam.
Dari semua cerita diatas ada satu cerita yang terlalu
semu untuk di ceritakan. Seperti wanita menari nari di sepanjang jalan ditengah
derasnya hujan bulan desember, seakan sedihnya tak terlihat lagi bercampur butir butir hujan yang membasahi pipi dan
seluruh badannya. Namanya hati tak bisa berbohong, dari mimik wajahnya
terpancar sedih, kenyataan pahit yang harus dijalani.
Yah...namanya juga bulan desember, akhir tahun yang
menandakan perpisahan.......
Cerita hujan bulan desember (kembali) membawaku pada realita, bahwa ini bukan negeri
dongeng....
Ada yang ingin saling mengingat, ada yang ingin saling
melupakan dan adapula yang berpura pura tak lagi punya rasa, tetapi tak perlu
risau yakinlah selalu ada yang baru pengganti perpisahan...
Hujan bulan desember, percayalah akan menghapus segala
jejaknya. Seperti kata pribahasa hujan satu hari akan menghapus kemarau
berhari-hari.....