Kau tak perlu berdusta, hatimu nyatanya tak setegar wajahmu yang garang.
Sebilah pisau memang menyakitkan, tetapi sayatan kebongan lebih perih ternyata.
Kau ini hebat, yang memujamu banyak diluaran sana, tetapi kau memilih terluka dengan menitip rasa pada ia yang semu.
Sudahlahhh...
Jika aku jadi kau, mungkin saja aku lebih memilih duduk-duduk manis di teras rumah, sambil menertawakan kebodohan ku karna telah sempat menitip rindu.