Pagi
di hari rabu, senyum lebar menghias
Keinginan
batin mengawali janji di hari lalu
Janji
tertunda yang ku tagih di hari rabu
Tak
sabar hati menanti janji di hari lalu
Ku
lihat kata ini (KECEWA) di hari rabu
Kutak
mau lagi mengambilnya, memungutnya, atau menampungnya dalam kantong batinku
Bukan
karena kosong, tapi sudah tak muak lagi
Karena
ku sudah banyak memungut, mengambil dan
menampungnya di hari lalu
Pikirku,,,
cukup
di hari lalu ku merasakan pedihnya kata ini (KECEWA)
pedihnya
mencabit cabit batin batin dan perasaan ini
pedihnya,
merobohkan semangat di hari itu
siapa
sangka,,,ternyata kata ini (KECEWA) kembali menyapaku di hari rabu
sungguh
tega katanya…..”jeritan batin tak tersampai”
membuat
batin dan perasaanku kembali merasakan hal yang sama di hari lalu
kembali
terulang…….begitu katanya
aku
bertanya……….
Siapa
yang pantas di salahkan?
Apakah
kata ini (KECEWA) yang pantas di salahkan?
Apkahkah
orang si pembuat kata ini (KECEWA) yang pantas di salahkan?
Jawab,,,,”kataku”
Kenapa
diam?..........jawab tanyaku sekarang juga
Kenapa
diam?.........siapa yang pantas di salahkan? “kataku”
Jawab
!..........mengapa mulut seakan membisu?
JAWAB……………!!!