Secangkir kopi yang kita seduh bersama di teras rumah
ternyata hanyalah bunga tidur yang tak jelas dari mana arah datangnya. Aku
terbangun lebih cepat dari biasanya agar takdilema oleh buaian mimpi yang fana.
Di sudut kamar yang tak begitu terang ada kaca yang siap dipakai untuk
bercermin...
Kutanyakan pada cermin, siapa aku?...
Dia diam seribu bahasa, ingin kutanyakan pada engkau.
Tetapi dirimu pun masih semu di dalam mimpiku malam tadi.
Aku terdiam...
Disisi lain, didasar relung jiwaku bergema kata yang tak
bisa tersampaikan oleh seorang pengecut sepertiku. Meneguk rasa kasih ku seorang
diri itu sulit, tetapi berbagi denganmu bisa jadi sebuah musibah.
Lebih baik KITA
diam....
Untuk hari esok dan seterusnya, aku harus belajar
membuang ego, untuk tak lagi mengucapkan namamu di tiap doaku.