Saat itu malam, aku teringat dengan novel yang baru saja kudownload minggu
kemarin, ukurannya tidak terlalu besar, jumlah halamannya 300 lembar lebih
dengan judul novel yang tertulis di covernya, judulnya tidak lagi asing
ditelinga. Ayat-ayat cinta, yah itulah judulnya, novel yang pernah dibuatkan
filmnya ini mungkin sudah bosan kita mendengarnya. Namun entah mengapa aku
ingin sedikit saja membacanya, tidak banyak. Malam itu kubuka laptopku, kucari
novel itu. Kubaca covernya telihat tulisan best seller, anggapku ini pasti
keren. Kubuka halaman cerita pertamanya, terlihat judul di kop halamannya
dengan tulisan “gadis mesir itu bernama maria”. Mulai kumembacanya, baru saja
beberapa kata kuhabiskan rasa bosan mulai datang, kata-katanya sulit
kumengerti, alur ceitanya susah kupahami, entah karena penulisannya yang
terlalu menggunakan bahasa tinggi atau memang otakku yang tak sampai.
Aku melangkah dibagian kedua dari novel ini dengan judul “peristiwa didalam
metro”. Metro adalah kendaraan umum yang berada di mesir, sejenis kereta api
jika di indonesia. Berbeda dengan dibagian pertama novel itu, dibagian ini
ceritanya sedikit kumengerti. Seorang pemuda bernama fakhri. Fahri terlibat
perdebatan didalam metro itu ia membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku.
Setelah kuhabiskan cerita di bagian novel ini, ada satu pelajaran yang
kudapatkan, yakni islam adalah agama yang toleran. Yaa toleransi yang
akhir-akhir ini menurut dari pandanganku patut mendapat tanda tanya besar di
negeri tempatku dilahirkan setelah rangkaian peristiwa-peristiwa besar yang
akhir-akhir ini sering terjadi, banyak orang beranggapan itu hanyalah bagian
dari penak pernik pilkada DKI yang memang pada saat itu momentumnya bersamaan
dengan pilkada, tapi menurutku apapun alasannya itu tetap keterlaluan.
Kembali kecerita novel, setelah kubaca dibagian keduanya aku seperti
kecanduan untuk membacanya hingga habis, benar saja tanpa kusadari lembaran
yang ingin kubaca telah habis, bagiku ini rekor karena aku sendiri tak pernah
menghabiskan satu buku untuk kubaca, terlebih novel ini lumayan tebal dengan
isi 315 lembar. Ahh aku seperti terbius dengan kisah di novel ini karangan
Habibuahman El Shirazy yang memang sebenarnya merupakan seorang novelis lulusan
Al Azhar Univesity Cairo.
Dibagian ke-tiga dan ke-empat dari novel ini membahas tentang Noura, gadis
kecil yang malang karena mendapat kekerasan fisik oleh orang tuanya, yang
belakangan diketahui sebenarnya bukan orang tua kandungnya seperti yang di
bahas dibagian akhir di novel itu. Gadis ini akhirnya dotolong oleh Fahri,
mahasiswa asal Indonesia yang juga merupakan pemeran utama dalam novel itu.
namun diakhir cerita dalam novel gadis kecil ini malah menuntut Fahri,
mahasiswa asal indonesia yang menolongnya tadi. Noura
menuduh Fahri telah memperkosanya. Semua orang tahu bahwa itu adalah fitnah. Sembari melanjutkan membaca bagian selanjutnya dari
novel ini, aku berpikir andai kata orang seperti noura ini ada dalam di dunia nyata
mungkin dia adalah orang yang paling tidak tahu berbalas budi.
Inti dari kisah novel ini adalah seorang anak miskin dari indonesia yang
rela menjual sawah satu-satunya untuk membiayai biaya kuliahnya di cairo Mesir.
Pemuda itu bernama Fahri
bin Abdullah Shiddiq. Ia adalah seorang mahasiswa Universitas Al-azhar. Di
Mesir Fahri tinggal bersama dengan keempat temannya yang juga berasal dari
Indonesia. Mereka tinggal di apartemen sederhana, suatu ketika fahri menikah dengan Aisah gadis cantik
nan kaya. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis asal indonesia yang menuntut
ilmu di Al-Azhar University, gadis itu bernama Nurul. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan
petani membuatnya tidak pernah mengungkapkan perasaanya pada Nurul. Padahal
Nurul juga menaruh hati pada Fahri, Tapi serupa dengan Fahri, Nurul pun juga
tidak sanggup mengungkapkan perasaanya kepada Fahri. Sumpah,
dimalam yang semakin larut itu aku seperti terbawa dalam alur kisahnya,
lumayanlah sebagai penghibur dibulan suci ini hehehe.
Dibagian akhir dari novel ini, fahri yang tadinya dipenjara setelah
menerima tuduhan dari noura karena memperkosanya. Akhirnya memasuki sidang
penentuan, disidang itu maria datang dengan kondisi tubuh yang tidak sehat. Mariah
merupakan tetangga fahri yang merupakan pemeluk agama kristen yang taat,
meskipun dia kristen maria menghafal beberapa surah dalam Al-quran. Gadis cerdik
nan cantik yang juga menaruh hati pada Fahri mengungkap semua kebohongan Noura.
Setelah
mengatakan itu semua, Maria pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Dan Fahri
memenangkan sidang tersebut.
Begitu divonis bebas, Fahri dibawa oleh Aisha ke rumah sakit yang sama
dengan Maria untuk diperiksa. Sejak selesai dari persidangan itu, Maria belum
sadarkan diri juga. Beberapa saat kemudian, Aisha mendengar Maria mengigau
melafaskan ayat-ayat suci al- quran sembari air matanya menetes, maria juga
mengigau kalau dia ingin masuk surga, tapi dalam mimpi itu tidak diperbolehkan,
lalu ia terbangun dan menceritakan semua mimpinya itu, Fahri memahami makna
mimpi dari Maria.
Akhirnya Aisha membantu Maria untuk berwudhu. Setelah itu Maria kembali
dibaringkan di atas kasur seperti semula. Lalu dengan suara lirih yang keluar
dari relung jiwa ia melafalkan syahadad. Tak lama kemudian, kedua matanya tertutup
rapat dan akhirnya Maria meninggal dunia.