 |
| Courtesy: Google Image |
Suara-suara kemenangan itu berkumandang sejak malam tadi
saat pemerintah memutuskan satu syawal jatuh pada hari esok yang kusaksikan
lewat layar tv. Sejak malam itu takbir seolah bersyair ria tiada henti ditiap
sudut penjuru dunia, seolah-olah seisi alam ikut mendendangkannya, tak
terkecuali ditanah kelahiranku, Desa Tugondeng Kec. Herlang, terletak dibagian
timur kota Bulukumba.
Seperti menjadi budaya yang mendarah daging, takbir
keliling dengan memuja-muji kebesaran Sang Pencipta begitu sangat syahdu, jauh
lebih syahdu dibanding Khalil Gibran, seniman asal Lebanon yang terkenal itu
saat mendendangkan karya-karya maha agungnya atau jauh lebih indah dibanding
Habiburahman El-shirazy, novelis lulusan Cairo University disaat menulis
syair-syair indahnya tentang cinta.
Pagi itu mentari menyingsing keluar dari peraduannya
namun tak begitu jelas karena tertutupi awan mendung yang disertai hujan deras,
tampaknya langit turut ikut terharu dihari kemenangan umat Islam. Suara takbir
yang kudengar malam tadi masih terdengar dipagi ini. Tepat jam 06.00 wita aku
bangun dari kasur empukku dan bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap
melaksanakan sholat id. Salat Id adalah ibadah salat sunah yang dilakukan
setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Salat Id termasuk dalam salat sunah
muakkad, artinya salat ini walaupun bersifat sunah, namun sangat penting
sehingga sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya.
Kuhidupkan motorku dan menerjang hujan yang mulai redah,
ini hari yang ditunggu, hari yang paling ditunggu oleh seluruh umat muslim
ucapku dalam hati sembari mengendarai sepeda motor, sampai ditujuan setelah
beberapa menit menunggu shalat pun dilaksanakan, diakhir-akhir sholat aku
memanjatkan doa yang menjadi tujuanku ditahun ini. seorang pemuda separo baya
naik diatas mimbar menyampaikan ceramahnya. “Bagaimana
Indonesia bisa maju, jika isi ceramah yang disampaikan hampir tak ada bedanya
dari tahun ke tahun, mungkin sebelum saya lahir didunia ini pun isinya tetap
seperti ini”. Lirihku dalam hati sambil menutup mulut karena menguap.
Setelah selesai shalat, saatnya memberi dan menerima
maaf. Aku bisa merasakan begitu dalam, bagaimana indahnya hari ini, hari saling
memaafkan. Kuberangjak pulang kerumah dan.......
***