Sore itu ia pacu sepeda motornya sembari memikirkan
moment hari ini yang menjadi penentu masa depannya. Sesampainya dirumah, Ia
memarkirkan sepeda motor dibawah pohon samping rumahnya, saat itu mentari
seketika telah berada diufuk barat, cahayanya sedikit demi sedikit tenggelam,
Azzam yang bari tiba dirumahnya berpikir mentari disenja itu seperti tampak
malu-malu akan kedatangannya, selang beberapa menit suara adzan mulai terdengar, hati azzam merasa gembira karena
maghrib telah tiba pertanda kewajibannya akan ia tunaikan, ia membersihkan seluruh
tubuhnya. Azzam bersujud disajadah sambil memanjatkan doa agar ia mendapatkan
hasil pengumuman yang selaras dengan keinginannya, ia pun berdoa dengan penuh
khusyuknya.
Seusai sholat azzam berpikir bahwa setelah masa putih
abu-abunya selesai, di mana langkah
selanjutnya akan berpikjak, cita-citanya dari awal yakni
ingin menjadi politikus menguatkan tekadnya untuk kuliah
dan mengambil jurusan ilmu politik. Setelah pendaftaran Seleksi Nasional Masuk
Perguruan Tinggi Negeri, Azzam memberanikan
diri untuk mendaftar, entah apa yang ada di pikirannya saat itu, yang niat awal ingin mengambil jurusan
ilmu politik malah mengambil jurusan administrasi Negara di Universitas
Tadulako (UNTAD) Palu. Azzam mendaftar di luar
Sulawesi selatan, karena selama ini keluarga terkhusus orang tua selalu
menjusticenya bahwa dia tidak bisa
hidup jauh dari mereka, dan hal itulah menjadi motivasi Azzam untuk mendaftar jauh dari orang tua, sekaligus membuktikan
bahwa ia bukan lagi anak ingusan yang tak bisa jauh dari
rengekan seorang ibu.
Pada
saat hari H pengumuman kelulusan SNMPTN, Azzam begitu sangat penasaran, teman-temannya yang lain ada yang bahagia karena lulus ada pula
yang patah semangat karena hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Pada saat mengakses hasil pengumuman, dan tertulis dengan
jelas bahwa Azzam di katakana lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan
Tinggi Negeri atau SNMPTN di Universitas tadulako, Palu. Azzam bersorak gembira pada saat itu namun tidak dengan
ke dua orang tuanya, Azzam melihat wajah sedih dari mereka entah mengapa.
Pada
saat pendaftaran ulang ke universitas tadulako, sebagai konfirmasi bahwa ia bersedia untuk melanjutkan studi di sana, lagi-lagi
ia melihat ekspresi sedih dari orang tuanya, namun kali ini bukan hanya wajah sedih yang ia lihat tapi juga suara tangis dari ibu yang terdengar, yaa ternyata
orang tuanya tidak mengikhlaskan Azzam untuk melanjutkan studi di palu, tetapi Azzam ngotot untuk bisa kuliah di sana, namun pada
akhirnya izin itu juga tak kunjung di berikan ibu kepadanya, kecewa, sangat kecewa namun mau dia apa, ia harus menerima lapang dada, Azzam berpikir masih ada kesempatan yakni melalui jalur
Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau di kenal dengan SBMPTN. saat
itu Azzam mendaftar di UNHAS & UNM. Ia mengambil jurusan manajemen, adminstrasi Negara,
dan akuntansi. Azzam di tes bersama
teman-teman lainnya dengan soal yang begitu sulit, sembari mengerjakan
soal-soal tersebut, sesekali ia berpikiran bahwa
seandainya orang tuanya memberi izin untuk
melanjutkan studi di palu, mungkin saat ini ia tidak sesiksa ini. Pikiran-pikiran seperti itu
terus berada dalam pikirannya bahkan hingga
saat ini.
Tiba
saatnya pengumuman SBMPTN, Azzam berharap hasil
yang sama bisa ia dapatkan seperti pada
saat saya mendaftar SNMPTN dulu, namun ternyata tuhan seperti punya rencana
lain, Azzam tidak lulus SBMPTN, lagi-lagi kecewa . sempat
kekecawaan itu mengundang rasa putus asah dan pikiran yang selalu ia pikirkan muncul seketika. “andai orang tua memberi izin ke palu mungkin saya tidak seperti ini”, rasa-rasanya
kekecawaannya itu ingin ia lampiaskan
dengan amarah.
Namun,
lagi-lagi orang tuanya membujuk dengan nada
menenangkan hati, ia putuskan kembali untuk mendaftar
jalur mandiri di UIN, setelah melewati serangkaian seleksi, lebih satu bulan ia menunggu hasil pengumuman jalur mandiri di UIN, dan
setelah hari yang di nanti itu tiba, Azzam
melihat hasilnya dan ternyata kalimat yang ia dapatkan pada pengumuman di SBMPTN kini ia dapatkan jua di pengumuman jalur mandiri UIN. “Anda
di Nyatakan TIDAK LULUS”. Sungguh ini kekecewaan yang sangat susah untuk Azzam
menerimanya, hingga matanya pun tak menyadari bahwa ada tetesan air yang jatuh.
Selang
beberapa hari kemuadian, orang tua menanyakan perihal masa depannya. Namun masih dengan suasana yang begitu kecewa,
langsung ia
respon dengan nada tinggi, “seandainya
kita izinkan ka ke palu, tidak bakalan begini ji kurasakan, tidak sesiksa ini
ja” . kalimat itu terlontar dari mulutnya tanpa ia sadari.
Sambung
cerita, Azzam mendapat info bahwa masih ada terbuka jalur mandiri
di UIN, dan orang tuanya menyarankan kembali
untuk mendaftar, namun rasa-rasanya Azzam tidak ingin
lagi mencoba hal yang sama karena sudah takut menerima hasil yang mengecewakan,
inginnya menganggur satu tahun namun orang tuanya terus menyarankan untuk mendaftar, dan setelah ia pikir pikir daripada menganggur satu tahun,
waktunya terbuang sia-sia, akhirnya Azzam putuskan
untuk mendaftar kembali di UIN lewat jalur mandiri untuk kedua kalinya, ia pun mengambil jurusan manajemen dan hukum tata Negara.
Sebenarnya semangat Azzam untuk mendaftar kali
ini tidak seperti ketika mendaftar sebelumnya.
Kali
ini orang tuanya menghalalkan segala
cara agar saya bisa lulus, termasuk salah satunya menyogok salah satu dosen
disana, tiba pada saat hai H pengumuman, ia melihat hasilnya
dan ternyata, lagi lagi dan lagi Azzam di nyatakan tidak
lulus, sungguh ini kekecawaan yang paling pahit yang pernah Azzam alami,
ternyata uang sogokan itu tak punya dampak apa-apa.
Azzam merasa masa
depannya sekarang sudah abu-abu, dan tidak jelas. Pada saat
itu ia tidak tau lagi hal apa yang mesti ia lakukan, sedikit demi sedikit mencoba melupakan
serangkaian kegagalan itu, dan mecoba berhenti untuk menyalahkan orang tuanya. Singkat cerita akhirnya Azzam memutuskan untuk
kuliah dan mendaftar kembali di salah satu pts yang ada di Makassar, dan Alhamdulillah kali ini Azzam dinyatakan lulus